weblogo


grafik1

BUSINESS PLAN:
as realistic as possible

Reflecting its mission of promoting critical discourse, alternative ideas, and new concepts about social transformation, INSISTPress's primary products are written materials, particularly alternative books, and other products such as T-shirts as a media for public appeal.

For the period 2005-2009, INSISTPress plans to publish 2-4 books per month, with 2,000 copies each, as well as 2-3 T-shirts per month. In addition, INSISTPress will continue to publish the Jurnal WACANA, every 4 months.

Based on these calculations, INSISTPress's production estimates for 2005-2009 can be seen in the graph to the left. These predictions take into account possibilities of change in production costs and our available working capital at this time.




wacanalogo


HOST EDITORS
:  Roem Topatimasang, Don K.Marut. Ivan A.Hadar, Sri Kusyuniati, Noer Fauzi, Henri Myrtinen.
  EXECUTIVE EDITOR : Ahmad Mustofa


We invite anyone as Guest Editor. Every edition will be directed by a Guest Editor. Only if there is no Guest Editor, one of the Host Editors will directing the edition of that time.

JOURNAL of SOCIAL TRANSFORMATION

THE LAST EDITION

No.18, VI/2004
September - December 2004

DEMOCRACY of WHY DEMOCRACY IS BAD?


INTRODUCTION

Demi Demokrasi, Gusur Politik Busuk, ataukah Ada yang Salah dengan Demokrasi?
Ivan A.Hadar

ANALYSIS
GNTPPB: Demokrasi & Masyarakat Sipil
Indra J.Piliang

Kenapa Demokrasi itu Buruk?
Paul Treanor

Tentang Krisis Demokrasi Perwakilan di Uni Eropa dan Strategi Alternatif Partisipasi
Henri Myrtinen

Oposisi Sosial dalam Empat Tinjauan
M.Fadjroel Rahman

CASES
Refleksi atas Pengalaman Gerakan Sosial dan 'Politik Konstituen' Yayasan Nen Masil
Saleh Abdullah

Sistem Pemilu DPR/DPRD 2004
Pipit R.Kartawidjaya

REVIEW (book)
Indonesia dalam Kerumitan Transisi Demokrasi
M.Mustafied

Host Editor:
Ivan A.Hadar

demokrasi

ISBN 1410-1298



Language: Indonesia


Pages
: 228, including annex;
  Dimension : 17 x 24 cm.

Demokrasi telah memberi sumbangsih besar dalam proses pemerdekaan manusia untuk berbeda pendapat, menyatakan kepentingan, membentuk kelompok, menyalurkan hasrat kekuasaan dengan tujuan mencegah terjadinya penguasaan mutlak satu kelompok atas kelompok lain. Demokrasi juga telah berhasil menggusur kekejaman dan penindasan rezim otoriter yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan.

Tapi demokrasi juga memiliki cacat bawaan yang bisa menelikung cita-cita mulianya dalam sekejap. Dominasi faham liberal membuat teori demokrasi gagal menghilangkan hierarki kelembagaan yang menindas, melahirkan pemerintah elitis, melempangkan kesenjangan dan ketimpangan sosial, dan mengesampingkan mayoritas. Kata akhirnya adalah 'demokrasi telah mati', karena pemerintah nasional hanya mengabdi pada kepentingan korporasi dan kekuasaan hanya dipegang oleh segelintir elite.

Edisi ini mencoba mengurai secara kritis tatanan politik yang diyakini sebagai bentuk sistem terbaik dari yang terburuk, yang dimantapkan lewat berbagai proyek demokrasi seperti pemilihan umum, good governance , civic education , dan lain-lain. Karenanya, edisi ini layak untuk dibaca oleh para akademisi, aktivis pergerakan sosial, dan mereka yang prihatin pada masalah-masalah demokratisasi.

TWO PREVIOUS EDITIONS

No.17, VI/2004
May - August 2004

SOLDIERS' COUNTRY


INTRODUCTION

Reformasi di Titik-balik?: Membongkat Upaya-upaya Remiliterisasi di Indonesia
George J.Aditjondro

ANALYSIS
Militer dan Pemerintahan Otoriter
Ivan A.Hadar

Peran Militer dalam Sistem Politik di Indonesia sampai Jatuhnya Rezim Soeharto
S.Indro Tjahjono

CASES
Ganja Aceh dan Serdadu Indonesia dalam Periode Perang Aceh 1989-2003
Otto Syamsudin Ishak

Bisnis Militer di Wilayah Konflik Maluku
Ichsan Malik

Bedil, Amis Darah, dan Mesiu: Mengurai Keterlibatan Militer dalam Konflik Ambon
Coen Husain Pontoh

Tentang Militerisme di Indonesia: Kampanye Anti Re-militerisme di Indonesia
Mashudi Noorsalim & Curie Maharani Savitri

Pengadilan HAM untuk Para Jenderal
Eko Prasetyo

REVIEW (book)
Suara Sumbang dan Kritis Para Patriot
Khomsatun & Prasetyo


Guest Editor:

George J.Aditjondro

negeri_tentara

ISBN 1410-1298


Language: Indonesia
(will be published as a special edition
in English)


Pages
: 250, including annex.
Dimension : 17 x 24 cm.

Kekejaman selalu membawa hawa persekongkolan. Sejarah menunjukkan, di balik pembunuhan kaum penduduk sipil, didapat gambaran akan jalur komando. Karena, sejak Orde Baru duduk dalam kekuasaan, balutan darah dan mesiu hidup kembali di segala lini.

Ledakan konflik yang beruntun membuat serdadu jadi organ yang tak berhenti menyalkkan senapan. Mereka menjadi fihak pertama yang turun-tangan. Tak hanya 'demi menyelematkan kehidupan bangsa', namun terutama mengambil keuntungan dari suasana. Sampai hari ini, bisnis militer di Indonesia berkembang pesat dengan hasil laba menakjubkan. Uang, senjata, dan jalur komando menjadi ornamen kekuasaan yang kebal terhadap hukum. Inilah negeri tentara, yang memenuhi hari-harinya dengan bom, peluru, dan bisnis. Negeri dimana tentara yang punya kuasa, bukan anda.

Oleh karenanya, edisi ini perlu anda baca, demi mengingatkan kita akan taktik serdadu menguasai sosial-politik-ekonomi kita, agar kesalahan sejarah tak terulang untuk kedua kalinya.


No.16, VI/2004
January - April 2004

UNMASKING NGO's PROJECTS


INTRODUCTION

Pengarahan Menuju Demokrasi: Politik Pembiayaan Tindakan Kolektif di Indonesia
Hendro Sangkoyo

ANALYSIS
Politik, Norma-norma Internasional, dan Pertumbuhan NGO-NGO Sedunia
Kim D.Reimann

Dari Bawah ke Atas: Masyarakat Sipil
Thomas Carothers

Imperialisme dan NGO-NGO
James Petras

Pengerahan Sosial dari Utara ke Selatan: Kebun Binatang dan Eksperimen Sosial?
Pantoro Tri Kuswardono

CASES
Interaksi Donor-ORNOP Kalimantan Timur
Koesnadi Wirasapoetra

Bergelut Melawan Bayangan Sendiri: Pengalaman Yayasan Wisnu Membangun Basis Logistik
IBK Yoga Atmaja

Penggalangan Dana bagi Perubahan Sosial
Loggena Ginting

REVIEW (book)
Teknik Yang Papa Mengemis pada Yang Kaya
Hary Prabowo


Guest Editor:
Hendro Sangkoyo


proyek_ornop

ISBN 1410-1298




Language : Indonesia


Pages : 236, including ennex.
Dimension : 17 x 24 cm.

Belum reda krisis ekonomi yang menuai jutaan kaum penganggur, merebaknya organisasi-organisasi non pemerintah (ORNOP) di Indonesia membawa fenomena tersendiri. Berasal dari kaum berpendidikan tinggi, mereka menjadi elite yang mewah dengan fokus kegiatan yang beragam. Disamping basis kegiatan yang sering tidak berakar pada kebutuhan lokal, berbagai ORNOP tampaknya menyimpan agenda masing-masing. Satu kritikan yang terus mendera ORNOP adalah karakternya yang cenderung bergantung pada lembaga donor. Menilik besarnya dana yang berputar di 'pasar' ORNOP dan lembaga donor, maka patut dipertanyakan: benarkah mereka menyimpan maksud mulia? Benarkah rakyat menjadi kalangan pertama yang kepentingannya dibela?

Edisi ini menyajikan tulisan-tulisan yang berani mengenai motif sebenarnya dari sejumlah donor untuk membiayai berbagai ORNOP, dilengkapi data angka mengenai pusaran uang yang bermain di dalamnya. Berangkat dari pemikiran bahwa naif jika kita percaya pada gagasan demokrasi, HAM, dan pemerintahan yang bersih, tanpa mencurigai apa yang berlangsung di sebaliknya, maka edisi ini wajib dieksplorasi kaum aktivis yang mencurigai keberadaan ORNOP, ataupun mereka yang terlanjur menjadi 'loyalis dan pengabdi' pada donor.

NEXT EDITION, No.20 VII/2005

will published soon in May 2005

back to the first page

back to top