weblogo






grafik1




RENCANA USAHA:
serealistik mungkin

Dengan misi mengembangkan wacana kritis, pemikiran alternatif, dan gagasan-gagasan baru tentang transformasi sosial, maka produk utama INSISTPress adalah penerbitan bahan-bahan bacaan, terutama dalam bentuk buku-buku alternatif, dan beberapa produk lainnya seperti kaos (T-shirt) sebagai media untuk public appeal.

Untuk tahun 2005–2009, INSISTPress merencanakan menerbitkan buku sebanyak 2 sampai 4 judul per bulan, dengan tiras sebesar 2,000 buku per judul; serta 2 sampai 3 rancangan kaos setiap bulan. Di samping itu, INSISTPress setiap 4 bulan juga tetap melanjutkan menerbitkan jurnal Wacana.

Dengan basis perhitungan tersebut, maka prakiraan rencana produksi INSISTPress sepanjang tahun 2005-2009 dapat dilihat pada grafik di sebelah kiri. Prakiraan ini sudah memperhitungkan beberapa kemungkinan perubahan dalam biaya-biaya produksi dan kemampuan modal kerja kami sampai saat ini.





wacanalogo


DEWAN REDAKTUR TETAP
:  Roem Topatimasang, Don K.Marut. Ivan A.Hadar, Sri Kusyuniati, Noer Fauzi, Henri Myrtinen.
  REDAKTUR PELAKSANA: Ahmad Mustofa


Kami mengundang siapa saja yang berminat menjadi Redaktur Tamu. Setiap edisi akan diarahkan oleh seorang Redaktur Tamu. Hanya jika tak ada Redaktur Tamu, salah seorang Redaktur Tetap sebagai pengarah.

JURNAL ILMU SOSIAL TRANSFORMATIF

EDISI TERAKHIR

No.19, Tahun VII/2005
Mei - Agustus 2005

KUASA KORPORASI: Dari Homogenisasi Rasa Sampai Hegemoni Pikiran


PENGANTAR

Penjajahan Pikiran dan Ruang Hidup
Hira Jhamtani

KAJIAN
Sejarah Globalisasi dan Korporasi
I. Wibowo

Kebangkitan Kekuatan Korporasi
Sarah Anderson

Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba
Yanuar Nugroho

Kelaparan di Tengah Kelimpahan: Dominasi Korporasi atas Pangan
Hira Jhamtani

Minyak: Komoditas Penggerak Liberalisme, Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme
S. Indro Tjahyono

Ketika Negara Dikudeta Pasar: Sebuah Renungan
Saleh Abdullah

KASUS
Privatisasi Pendidikan: Dari BHMN Hingga BHP
Darmaningtyas

REHAL (Film)
Ketika Rasa pun Dijajah
Beta Pettawaranie

Redaktur Tamu:
Hira Jhamtani

wacana-terakhir

ISSN 1410-1298





Tebal
: 185 halaman, termasuk lampiran. Ukuran: 17 x 24 cm.

Korporasi adalah mesin penggerak dan aktor utama globalisasi. Berbekal teknologi, informasi, modal, dan peraturan global, tangan-tangan ajaib korporasi mampu mendominasi hampir semua aspek kehidupan manusia.

Dalam ranah domestik, korporasi mendominasi semua kebutuhan dasar hidup berupa pangan, papan, sandang, energi, air bersih, pendidikan, layanan kesehatan, serta informasi. Korporasi juga mampu mengarahkan peraturan nasional dan global agar lebih menguntungkan kepentingannya.

Dengan kekuatan yang sangat besar itu, korporasi bahkan telah menjelma menjadi 'dajjal' yang mampu mengendalikan dan memanipulasi pikiran manusia sesuai kehendaknya.

Dalam edisi ini, WACANA mencoba mengulas tentang sejarah perkembangan, kuasa, dan sepak terjang korporasi dalam menjajah ruang-hidup manusia. Sebuah sajian yang layak dibaca semua kalangan.

TIGA EDISI SEBELUMNYA

No.18, Tahun VI/2004
September - Desember 2004

DEMOKRASI atau KENAPA DEMOKRASI ITU BURUK?


PENGANTAR

Demi Demokrasi, Gusur Politik Busuk, ataukah Ada yang Salah dengan Demokrasi?
Ivan A.Hadar

KAJIAN
GNTPPB: Demokrasi & Masyarakat Sipil
Indra J.Piliang

Kenapa Demokrasi itu Buruk?
Paul Treanor

Tentang Krisis Demokrasi Perwakilan di Uni Eropa dan Strategi Alternatif Partisipasi
Henri Myrtinen

Oposisi Sosial dalam Empat Tinjauan
M.Fadjroel Rahman

KASUS
Refleksi atas Pengalaman Gerakan Sosial dan 'Politik Konstituen' Yayasan Nen Masil
Saleh Abdullah

Sistem Pemilu DPR/DPRD 2004
Pipit R.Kartawidjaya

REHAL (buku)
Indonesia dalam Kerumitan Transisi Demokrasi
M.Mustafied

Redaktur Tamu:
Ivan A.Hadar

demokrasi

ISSN 1410-1298





Tebal
: 228 halaman, termasuk lampiran. Ukuran: 17 x 24 cm.

Demokrasi telah memberi sumbangsih besar dalam proses pemerdekaan manusia untuk berbeda pendapat, menyatakan kepentingan, membentuk kelompok, menyalurkan hasrat kekuasaan dengan tujuan mencegah terjadinya penguasaan mutlak satu kelompok atas kelompok lain. Demokrasi juga telah berhasil menggusur kekejaman dan penindasan rezim otoriter yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan.

Tapi demokrasi juga memiliki cacat bawaan yang bisa menelikung cita-cita mulianya dalam sekejap. Dominasi faham liberal membuat teori demokrasi gagal menghilangkan hierarki kelembagaan yang menindas, melahirkan pemerintah elitis, melempangkan kesenjangan dan ketimpangan sosial, dan mengesampingkan mayoritas. Kata akhirnya adalah 'demokrasi telah mati', karena pemerintah nasional hanya mengabdi pada kepentingan korporasi dan kekuasaan hanya dipegang oleh segelintir elite.

Edisi ini mencoba mengurai secara kritis tatanan politik yang diyakini sebagai bentuk sistem terbaik dari yang terburuk, yang dimantapkan lewat berbagai proyek demokrasi seperti pemilihan umum, good governance, civic education, dan lain-lain. Karenanya, edisi ini layak untuk dibaca oleh para akademisi, aktivis pergerakan sosial, dan mereka yang prihatin pada masalah-masalah demokratisasi.

No.17, Tahun VI/2004
Mei - Agustus 2004

NEGERI TENTARA


PENGANTAR

Reformasi di Titik-balik?: Membongkar Upaya-upaya Remiliterisasi di Indonesia
George J.Aditjondro

KAJIAN
Militer dan Pemerintahan Otoriter
Ivan A.Hadar

Peran Militer dalam Sistem Politik di Indonesia sampai Jatuhnya Rezim Soeharto
S.Indro Tjahjono

KASUS
Ganja Aceh dan Serdadu Indonesia dalam Periode Perang Aceh 1989-2003
Otto Syamsudin Ishak

Bisnis Militer di Wilayah Konflik Maluku
Ichsan Malik

Bedil, Amis Darah, dan Mesiu: Mengurai Keterlibatan Militer dalam Konflik Ambon
Coen Husain Pontoh

Tentang Militerisme di Indonesia: Kampanye Anti Re-militerisme di Indonesia
Mashudi Noorsalim & Curie Maharani Savitri

Pengadilan HAM untuk Para Jenderal
Eko Prasetyo

REHAL (buku)
Suara Sumbang dan Kritis Para Patriot
Khomsatun & Prasetyo


Redaktur Tamu:

George J.Aditjondro

negeri_tentara

ISSN 1410-1298




Tebal
: 250 halaman, termasuk lampiran. Ukuran: 17 x 24 cm.

Kekejaman selalu membawa hawa persekongkolan. Sejarah menunjukkan, di balik pembunuhan kaum penduduk sipil, didapat gambaran akan jalur komando. Karena, sejak Orde Baru duduk dalam kekuasaan, balutan darah dan mesiu hidup kembali di segala lini.

Ledakan konflik yang beruntun membuat serdadu jadi organ yang tak berhenti menyalakkan senapan. Mereka menjadi fihak pertama yang turun-tangan. Tak hanya 'demi menyelematkan kehidupan bangsa', namun terutama mengambil keuntungan dari suasana. Sampai hari ini, bisnis militer di Indonesia berkembang pesat dengan hasil laba menakjubkan. Uang, senjata, dan jalur komando menjadi ornamen kekuasaan yang kebal terhadap hukum. Inilah negeri tentara, yang memenuhi hari-harinya dengan bom, peluru, dan bisnis. Negeri dimana tentara yang punya kuasa, bukan anda.

Oleh karenanya, edisi ini perlu anda baca, demi mengingatkan kita akan taktik serdadu menguasai sosial-politik-ekonomi kita, agar kesalahan sejarah tak terulang untuk kedua kalinya.


No.16, Tahun VI/2004
Januari - April 2004

MEMBONGKAR PROYEK-PROYEK ORNOP


PENGANTAR

Pengarahan Menuju Demokrasi: Politik Pembiayaan Tindakan Kolektif di Indonesia
Hendro Sangkoyo

KAJIAN
Politik, Norma-norma Internasional, dan Pertumbuhan NGO-NGO Sedunia
Kim D.Reimann

Dari Bawah ke Atas: Masyarakat Sipil
Thomas Carothers

Imperialisme dan NGO-NGO
James Petras

Pengerahan Sosial dari Utara ke Selatan: Kebun Binatang dan Eksperimen Sosial?
Pantoro Tri Kuswardono

KASUS
Interaksi Donor-ORNOP Kalimantan Timur
Koesnadi Wirasapoetra

Bergelut Melawan Bayangan Sendiri: Pengalaman Yayasan Wisnu Membangun Basis Logistik
IBK Yoga Atmaja

Penggalangan Dana bagi Perubahan Sosial
Loggena Ginting

REHAL (buku)
Teknik Yang Papa Mengemis pada Yang Kaya
Hary Prabowo


Redaktur Tamu:
Hendro Sangkoyo


proyek_ornop

ISSN 1410-1298






Tebal: 236 halaman, termasuk lampiran. Ukuran: 17 x 24 cm.

Belum reda krisis ekonomi yang menuai jutaan kaum penganggur, merebaknya organisasi-organisasi non pemerintah (ORNOP) di Indonesia membawa fenomena tersendiri. Berasal dari kaum berpendidikan tinggi, mereka menjadi elite yang mewah dengan fokus kegiatan yang beragam. Disamping basis kegiatan yang sering tidak berakar pada kebutuhan lokal, berbagai ORNOP tampaknya menyimpan agenda masing-masing. Satu kritikan yang terus mendera ORNOP adalah karakternya yang cenderung bergantung pada lembaga donor. Menilik besarnya dana yang berputar di 'pasar' ORNOP dan lembaga donor, maka patut dipertanyakan: benarkah mereka menyimpan maksud mulia? Benarkah rakyat menjadi kalangan pertama yang kepentingannya dibela?

Edisi ini menyajikan tulisan-tulisan yang berani mengenai motif sebenarnya dari sejumlah donor untuk membiayai berbagai ORNOP, dilengkapi data angka mengenai pusaran uang yang bermain di dalamnya. Berangkat dari pemikiran bahwa naif jika kita percaya pada gagasan demokrasi, HAM, dan pemerintahan yang bersih, tanpa mencurigai apa yang berlangsung di sebaliknya, maka edisi ini wajib dieksplorasi kaum aktivis yang mencurigai keberadaan ORNOP, ataupun mereka yang terlanjur menjadi 'loyalis dan pengabdi' pada donor.

EDISI BERIKUTNYA, No.20 Tahun VII/2005

akan segera terbit September 2005

kembali ke halaman pertama

kembali ke atas

Valid HTML 4.01! Valid CSS!